Indonesia

2025-10-05 20:49

IndustriyaReview Pergerakan Mata Uang 2025
Q1: Awal Kejatuhan Dolar Kuartal pertama menjadi fase paling dramatis. Dalam waktu tiga minggu, indeks DXY jatuh dari 108 ke 98 – penurunan terdalam sejak Plaza Accord 1985. Euro dan Pound melonjak tajam, sementara USD/JPY ambruk hingga ke 132. Inflasi tetap tinggi meski ekonomi melemah, memicu kekhawatiran stagflasi. Pasar kehilangan kepercayaan terhadap stabilitas kebijakan The Fed, dan arus keluar dolar mempercepat tekanan jual. Lonjakan harga komoditas – emas dan minyak – memperkuat kekhawatiran inflasi global. Para analis menyebutnya sebagai “spiral devaluasi–inflasi” yang mempertegas akhir dominasi absolut dolar. Q2: Akselerasi Kerja Sama Regional Paruh kedua tahun memperlihatkan koordinasi lintas kawasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. BRICS mulai merealisasikan sistem pembayaran bilateral tanpa USD; Uni Eropa mempercepat proyek digital euro; sementara ASEAN meluncurkan sistem pembayaran regional berbasis mata uang lokal yang meningkatkan transaksi intra-regional hingga 300%. Negara-negara Teluk pun mulai menerima yuan dan euro untuk ekspor energi, menandai dekade baru pasca-petrodollar. Di sisi lain, adopsi kripto oleh negara berkembang – dari El Salvador hingga Argentina – memperkuat infrastruktur keuangan alternatif berbasis digital. Q3: Krisis Carry Trade dan Volatilitas Baru Dengan penurunan selisih suku bunga global, strategi carry trade tradisional kehilangan relevansi. Pasangan USD/JPY mengalami likuidasi besar-besaran, sementara pasar berkembang seperti Turki dan Argentina dihantam volatilitas ekstrem. Menariknya, carry trade digital mulai muncul melalui protokol DeFi dan stablecoin yield — menandakan pergeseran ke era baru perdagangan berbasis aset digital dan algoritma otomatis. Q4: Dominasi CBDC dan Integrasi Digital Kompetisi mata uang digital bank sentral (CBDC) mencapai puncak. China memperluas penggunaan digital yuan melalui inisiatif Belt and Road, Eropa menguji digital euro, sementara India dan AS mempercepat riset mata uang digital nasional. Regulasi kripto global semakin jelas, membuka jalan bagi institusi besar untuk mengintegrasikan aset digital ke dalam portofolio mereka. Geopolitik dan “Senjata Mata Uang” Sepanjang 2025, uang menjadi alat politik. Sanksi berbasis sistem SWIFT meluas ke lebih banyak negara, sementara proyek CBDC nasional didorong demi kedaulatan sistem pembayaran. Diversifikasi cadangan devisa kini lebih dipicu oleh risiko geopolitik ketimbang alasan ekonomi semata. Konsep currency weaponization menjadi istilah utama dalam diplomasi ekonomi global. Faktor Lingkungan dan Transformasi Ekonomi Transisi energi dan kebijakan karbon mulai memengaruhi valuasi mata uang. Negara dengan kebijakan karbon kuat seperti Uni Eropa menikmati premi reputasi “keuangan hijau”, sementara mata uang komoditas bergantung pada sumber daya berisiko lingkungan mengalami tekanan. Investasi besar-besaran pada energi terbarukan dan infrastruktur hijau turut mengubah alokasi modal lintas negara. #2025TradingReview
Katulad 0
Gusto kong magkomento din

Ipasa

0Mga komento

Wala pang komento. Gawin ang una.

VNC
Trader
Mainit na nilalaman

Pagsusuri ng merkado

Dogecoin cheers coinbase listing as Bitcoin’s range play continues

Pagsusuri ng merkado

Grayscale commits to converting GBTC into Bitcoin ETF:

Pagsusuri ng merkado

Bitcoin's price is not the only number going up

Pagsusuri ng merkado

Theta Price Prediction:

Pagsusuri ng merkado

How to Research Stocks:

Pagsusuri ng merkado

Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH) Forecast:

Kategorya ng forum

Plataporma

Eksibisyon

Ahente

pangangalap

EA

Industriya

Merkado

talatuntunan

Review Pergerakan Mata Uang 2025
Indonesia | 2025-10-05 20:49
Q1: Awal Kejatuhan Dolar Kuartal pertama menjadi fase paling dramatis. Dalam waktu tiga minggu, indeks DXY jatuh dari 108 ke 98 – penurunan terdalam sejak Plaza Accord 1985. Euro dan Pound melonjak tajam, sementara USD/JPY ambruk hingga ke 132. Inflasi tetap tinggi meski ekonomi melemah, memicu kekhawatiran stagflasi. Pasar kehilangan kepercayaan terhadap stabilitas kebijakan The Fed, dan arus keluar dolar mempercepat tekanan jual. Lonjakan harga komoditas – emas dan minyak – memperkuat kekhawatiran inflasi global. Para analis menyebutnya sebagai “spiral devaluasi–inflasi” yang mempertegas akhir dominasi absolut dolar. Q2: Akselerasi Kerja Sama Regional Paruh kedua tahun memperlihatkan koordinasi lintas kawasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. BRICS mulai merealisasikan sistem pembayaran bilateral tanpa USD; Uni Eropa mempercepat proyek digital euro; sementara ASEAN meluncurkan sistem pembayaran regional berbasis mata uang lokal yang meningkatkan transaksi intra-regional hingga 300%. Negara-negara Teluk pun mulai menerima yuan dan euro untuk ekspor energi, menandai dekade baru pasca-petrodollar. Di sisi lain, adopsi kripto oleh negara berkembang – dari El Salvador hingga Argentina – memperkuat infrastruktur keuangan alternatif berbasis digital. Q3: Krisis Carry Trade dan Volatilitas Baru Dengan penurunan selisih suku bunga global, strategi carry trade tradisional kehilangan relevansi. Pasangan USD/JPY mengalami likuidasi besar-besaran, sementara pasar berkembang seperti Turki dan Argentina dihantam volatilitas ekstrem. Menariknya, carry trade digital mulai muncul melalui protokol DeFi dan stablecoin yield — menandakan pergeseran ke era baru perdagangan berbasis aset digital dan algoritma otomatis. Q4: Dominasi CBDC dan Integrasi Digital Kompetisi mata uang digital bank sentral (CBDC) mencapai puncak. China memperluas penggunaan digital yuan melalui inisiatif Belt and Road, Eropa menguji digital euro, sementara India dan AS mempercepat riset mata uang digital nasional. Regulasi kripto global semakin jelas, membuka jalan bagi institusi besar untuk mengintegrasikan aset digital ke dalam portofolio mereka. Geopolitik dan “Senjata Mata Uang” Sepanjang 2025, uang menjadi alat politik. Sanksi berbasis sistem SWIFT meluas ke lebih banyak negara, sementara proyek CBDC nasional didorong demi kedaulatan sistem pembayaran. Diversifikasi cadangan devisa kini lebih dipicu oleh risiko geopolitik ketimbang alasan ekonomi semata. Konsep currency weaponization menjadi istilah utama dalam diplomasi ekonomi global. Faktor Lingkungan dan Transformasi Ekonomi Transisi energi dan kebijakan karbon mulai memengaruhi valuasi mata uang. Negara dengan kebijakan karbon kuat seperti Uni Eropa menikmati premi reputasi “keuangan hijau”, sementara mata uang komoditas bergantung pada sumber daya berisiko lingkungan mengalami tekanan. Investasi besar-besaran pada energi terbarukan dan infrastruktur hijau turut mengubah alokasi modal lintas negara. #2025TradingReview
Katulad 0
Gusto kong magkomento din

Ipasa

0Mga komento

Wala pang komento. Gawin ang una.