Ikhtisar:Sebelumnya kami telah mengingatkan bahwa dolar AS menghadapi risiko menembus level terendah. Meskipun pasar secara umum menilai penyebab utama berasal dari kerja sama Amerika Serikat dan Jepang untuk
Sebelumnya kami telah mengingatkan bahwa dolar AS menghadapi risiko menembus level terendah. Meskipun pasar secara umum menilai penyebab utama berasal dari kerja sama Amerika Serikat dan Jepang untuk menahan apresiasi yen, volatilitas imbal hasil obligasi pemerintah Jepang pada Jumat lalu yang mencapai enam standar deviasi di atas ekspektasi pasar menunjukkan bahwa penilaian pasar terhadap yen dan obligasi Jepang masih belum sepenuhnya rasional.
Pada tanggal 27, Trump dalam wawancara dengan media ditanya apakah ia mengkhawatirkan pelemahan dolar AS. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak menganggap pelemahan dolar sebagai kondisi yang berlebihan, bahkan menilai situasi tersebut sebagai tanda yang sehat. Trump berharap dolar dapat menemukan nilai wajarnya secara alami, sekaligus mengkritik sejumlah negara Asia yang dinilai berupaya mendorong depresiasi mata uang mereka.
Indeks dolar AS mengalami penurunan tajam dan saat ini berada di level 95,89, sementara pasangan USD/JPY menembus level psikologis 155 dan turun ke 152,89. Dalam kondisi yen yang menguat tajam dan dolar yang melemah cepat, tidak terlihat adanya tekanan lanjutan pada aset keuangan lainnya, sebuah dinamika yang justru memberikan ketenangan bagi pasar.
Sebelumnya, kami sempat mengkhawatirkan bahwa apresiasi yen dapat mendorong arus dana kembali ke Jepang, memaksa trader untuk menutup posisi short dan melakukan likuidasi pada saham AS, emas, maupun obligasi AS. Namun, skenario tersebut tidak terjadi. Sebaliknya, pelaku pasar cenderung menafsirkan pelemahan dolar sebagai faktor positif, khususnya dari sisi peningkatan daya saing perdagangan.
Berdasarkan laporan arus dana Bank of America per 22 Januari, dilakukan perbandingan antara dekade 1970-an dan 2020-an. Pada paruh awal 1970-an, indeks Nifty Fifty mencapai puncaknya pada 1972. Dalam periode 1971–1974, emas menjadi aset dengan kinerja terbaik, sementara pada 1975–1977, saham berkapitalisasi kecil mengambil alih kepemimpinan kinerja pasar.
Bank of America menggunakan dekade 1970-an sebagai cermin bukan semata-mata karena angka CPI, melainkan karena kesamaan struktur makroekonomi dan perubahan arah kebijakan. Kesamaan utama antara 1970-an dan 2020-an meliputi:
1. Ekspansi Fiskal dan Monetisasi Utang (Debasement)
Setelah runtuhnya sistem Bretton Woods pada 1971 dan terlepasnya dolar dari emas, Amerika Serikat memasuki era mata uang berbasis kredit. Pemerintah AS kemudian melakukan ekspansi fiskal besar-besaran. Saat ini, pemerintahan Trump cenderung mempertahankan pertumbuhan nominal yang tinggi dengan suku bunga riil yang rendah, sebuah kondisi yang menyerupai lingkungan moneter era 1970-an.
2. “Pasar Obligasi Bear Besar” dan Titik Balik Siklus Suku Bunga
Dekade 1970-an merupakan titik balik dari pasar obligasi bullish selama 30 tahun. Bank of America menilai bahwa pembalikan struktural jangka panjang dalam siklus suku bunga saat ini memiliki kemiripan yang kuat dengan periode tersebut.
3. Dari “Tangan Tak Terlihat” ke “Tinju yang Terlihat”
Pemerintahan Trump semakin banyak menggunakan intervensi administratif untuk mengendalikan biaya hidup. Ekonomi yang dipimpin oleh pemerintah cenderung menekan margin laba perusahaan besar, sehingga dalam lingkungan intervensi kebijakan seperti ini, saham berkapitalisasi kecil berpotensi tampil lebih unggul.
(Grafik 1: Peringkat imbal hasil aset 1969–1981; Sumber: Bank of America)
Seiring dengan pelemahan dolar AS, pasar negara berkembang di Asia diperkirakan akan mendapatkan manfaat yang lebih besar. Efek aliran dana kembali ke Asia juga telah diperhitungkan oleh Bank of America. Laporan tersebut menyebutkan pandangan positif terhadap pasar Tiongkok didasarkan pada asumsi makro “American Exceptionalism”, dengan keyakinan bahwa deflasi di Tiongkok telah berakhir, konsumsi mulai pulih, dan valuasi pasar berada pada level yang menarik.
Namun, dari perspektif siklus ekonomi, saya sejalan dengan pandangan bahwa pergerakan saat ini lebih mencerminkan siklus produktivitas yang membawa serta siklus inflasi. Bank of America menilai terdapat sejumlah faktor struktural jangka panjang yang secara menyeluruh mendorong kenaikan biaya, membentuk tekanan inflasi struktural, termasuk depresiasi mata uang, ekspansi fiskal, pergeseran kebijakan, serta kenaikan biaya komoditas.
Dalam jangka pendek, kebijakan mungkin berupaya menekan harga, namun dalam jangka panjang, berdasarkan depresiasi mata uang, defisit fiskal, dan pola siklus historis, risiko kebangkitan inflasi tetap menjadi tema utama pada paruh kedua dekade 2020-an.
(Grafik 2: Perbandingan tren inflasi era 1970-an dan kondisi saat ini; Sumber: Bank of America)Peringatan Risiko
Pandangan, analisis, riset, harga, maupun data lainnya yang disampaikan di atas hanya bertujuan sebagai komentar pasar secara umum dan tidak mencerminkan posisi resmi platform ini. Seluruh pembaca bertanggung jawab atas risiko masing-masing. Harap melakukan transaksi dengan penuh kehati-hatian.