Ikhtisar:Mayoritas mata uang Asia melemah pada awal pekan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak dunia. Sentimen negatif di pasar juga diperparah oleh rilis data ekonomi Tiongkok yang mengecewakan dan berlanjutnya lonjakan imbal hasil obligasi global.

Mayoritas mata uang dan bursa saham di kawasan Asia mengalami tekanan berat pada awal pekan. Pelemahan dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap ancaman inflasi menyusul tingginya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Situasi ini kian memanas setelah adanya kepanikan akibat serangan pesawat tak berawak terhadap fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab.
Ancaman gangguan pasokan di wilayah tersebut merespons langsung terhadap pasar energi, mendorong harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga menengger di atas level $105 per barel.
Tingginya harga minyak ini juga membangkitkan kekhawatiran inflasi jangka panjang yang memastikan ekspektasi suku bunga global tetap tinggi.
Kondisi ini berujung pada aksi jual masif di pasar obligasi, melambungkan imbal hasil menuju rekor tertinggi dalam beberapa tahun. Di tengah kejatuhan aset berisiko, dolar AS tetap kokoh mengingat daya tariknya pada lingkungan suku bunga tinggi saat ini.
Dari Asia Timur, yuan tercatat ikut melemah menyusul serangkaian data ekonomi bulan April Tiongkok yang berada di bawah ekspektasi pasar. Angka pertumbuhan kredit merosot ke level terendah dalam lebih dari tiga tahun, diiringi oleh penyusutan indikator aliran investasi pemerintah dan swasta.
Perlambatan permintaan domestik di Tiongkok ini semakin menambah beban bagi selera risiko pelaku pasar di Asia.
Pada arus pergerakan valuta lainnya, turunnya selera risiko ini turut menyeret pelemahan nilai tukar dolar Australia. Begitu juga dengan rupee India yang tertinggal di level yang berdekatan dengan pelemahan terendahnya tahun ini akibat melonjaknya tagihan impor minyak.
Di sisi lain, yen Jepang mencoba bertahan dengan penguatan tipis di tengah meroketnya imbal hasil obligasi pemerintah Jepang ke level tertinggi dalam 29 tahun, sebuah langkah yang menumbuhkan ekspektasi intervensi atau kenaikan suku bunga bank sentral dalam waktu dekat.