Ikhtisar:Mata uang Asia menguat tipis saat dolar AS bertahan dekat level terendah multi-bulan dan yield Treasury mereda. Fokus pasar tertuju pada risalah rapat Federal Reserve, sementara won Korea Selatan memimpin penguatan dan rupee India kembali tertekan.

Mata uang Asia bergerak menguat pada Rabu, sementara dolar AS bertahan dekat level terendah multi-bulan. Indeks dolar turun 0,1% ke 99,57, seiring meredanya yield Treasury yang memberi ruang bagi mata uang kawasan.
Investor menunggu risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve terbaru. Pada pertemuan 29 Juli, Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75% melalui voting 9-3, sementara inflasi AS yang lebih lunak dan penurunan lapangan kerja tak terduga pada Juli menekan ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan.
Won Korea Selatan menjadi penguat utama, dengan pasangan dolar AS/won turun hampir 1% ke level terendah sejak September 2025.
Yen Jepang juga menguat tipis terhadap dolar, tetapi tetap berada di bawah tekanan meski ada upaya otoritas Jepang dan AS untuk mendukung mata uang tersebut.
Di sisi lain, rupee India melemah untuk sesi kelima berturut-turut, dengan dolar AS/rupee naik 0,1% ke 95,74.
Tekanan pada rupee dikaitkan dengan harga minyak yang masih bertahan di atas $91 per barel dan kenaikan yield obligasi global, meski terdapat laporan kemungkinan intervensi bank sentral India.
Perubahan dinamika yen juga membuat franc Swiss mulai diperhatikan sebagai alternatif mata uang pendanaan carry trade.
Risiko intervensi pada yen membuat sebagian pelaku pasar lebih berhati-hati, sementara biaya pinjaman Swiss yang rendah dan volatilitas franc yang lebih rendah dapat membuat mata uang itu lebih menarik sebagai pendanaan.