Ikhtisar:Dolar AS melemah dan imbal hasil obligasi turun menyusul kesepakatan awal Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz. Sentimen geopolitik yang mereda ini turut menekan harga minyak dunia sekaligus mendorong reli kuat di pasar saham global dan lonjakan harga emas.

Dolar Amerika Serikat mencatatkan pelemahan yang berjalan beriringan dengan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Perubahan arus pasar ini dipicu oleh tercapainya kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik, mencabut blokade pelabuhan angkatan laut AS, serta membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
Harapan terhadap stabilitas keamanan di Timur Tengah ini berhasil meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang tinggi.
Kelonggaran tensi geopolitik ini berdampak langsung pada tergelincirnya harga energi global akibat meredanya kekhawatiran gangguan pasokan. Minyak mentah berjangka jenis Brent anjlok hampir 4 persen ke bawah level $84 per barel, sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melorot tajam ke $84,85 per barel.
Sebaliknya, harga emas justru melambung naik lebih dari 2 persen menyentuh level $4.327 per ons, didorong oleh ekspektasi meredanya agresivitas bank sentral dalam menaikkan suku bunga acuan.
Memudarnya risiko ketegangan perang secara bersamaan memantik selera risiko pasar, memicu reli bursa saham secara global mulai dari Wall Street, Eropa, hingga kawasan Asia.
Selain faktor makroekonomi, penguatan tajam pada indeks saham juga ditopang oleh kesuksesan penawaran saham perdana (IPO) SpaceX di Nasdaq yang mencetak rekor terbesar dalam sejarah pasar modal.
Walau sentimen sedang sangat positif, pergerakan tren ke depan masih membutuhkan kehati-hatian karena munculnya potensi risiko dari sisi implementasi kesepakatan penuh antara AS dan Iran.