Ikhtisar:Mata uang Asia bergerak melemah pada Senin, sementara yen Jepang tetap berada di dekat level terendah multi-dekade terhadap dolar AS. Fokus pasar tertuju pada risiko intervensi Jepang dan risalah rapat Federal Reserve pekan ini.

Sebagian besar mata uang Asia melemah pada Senin, setelah dolar AS kembali menguat tipis dari penurunan pekan lalu.
Pergerakan ini terjadi setelah data tenaga kerja AS yang lebih lunak sempat menekan dolar, tetapi kekhawatiran atas inflasi AS yang masih tinggi tetap membatasi pelemahan greenback.
Yen Jepang masih menjadi perhatian utama pasar karena USD/JPY naik sekitar 0,3% ke 161,82, tetap dekat area yang terakhir terlihat pada 1986. Pasangan ini masih berada di atas 160, level yang sebelumnya pernah memicu intervensi besar dari otoritas Jepang.
Tekanan pada yen masih dipengaruhi selisih suku bunga AS dan Jepang yang lebar, meski Bank of Japan telah menaikkan suku bunga pada Juni dan memberi sinyal sikap yang lebih hawkish.
Pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi langkah lanjutan dari Tokyo, terutama setelah pejabat memberi peringatan verbal terkait spekulasi terhadap yen dalam beberapa pekan terakhir.
Indeks dolar naik sekitar 0,1% di sesi Asia setelah turun 0,5% pada pekan sebelumnya.
Pasar kini menunggu risalah rapat Federal Reserve untuk mencari petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan suku bunga, meski ketidakpastian terkait sikap hawkish bank sentral AS masih membayangi.
Di kawasan lain, yuan China, dolar Singapura, won Korea Selatan, dolar Taiwan, dan rupee India melemah terhadap dolar AS.
Won juga menjadi sorotan setelah Korea Selatan memulai perdagangan spot dolar-won onshore hampir 24 jam, sebagai bagian dari reformasi pasar valuta asing untuk memperluas akses investor global.
D prime
HFM
VT Markets
STARTRADER
Exness
IC Markets Global
D prime
HFM
VT Markets
STARTRADER
Exness
IC Markets Global
D prime
HFM
VT Markets
STARTRADER
Exness
IC Markets Global
D prime
HFM
VT Markets
STARTRADER
Exness
IC Markets Global