Ikhtisar:Dolar AS mengalami pelemahan seiring dengan meningkatnya optimisme pasar terhadap pelonggaran ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sentimen positif ini turut mendorong valuasi mata uang utama seperti Dolar Australia, sementara para pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada rilis data tenaga kerja Amerika Serikat.

Para pelaku pasar merespons positif kabar mengenai kemajuan negosiasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Optimisme terkait potensi berakhirnya konflik ini langsung menekan nilai tukar Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama, sekaligus memicu penurunan tajam pada harga minyak mentah dan mendorong pelarian modal ke aset emas hingga menyentuh level tinggi di kisaran $4.700.
Meredanya sentimen penghindaran risiko memberikan dorongan signifikan pada mata uang mayor yang sensitif terhadap pertumbuhan global. Dolar Australia berhasil melesat mendekati level tertinggi dalam empat tahun terakhir di kisaran 0.7240 akibat pelemahan Dolar AS. Sementara itu, Poundsterling bergerak sedikit tertahan di bawah batas 1.3600, meskipun ditopang oleh indikator aktivitas sektor jasa Inggris yang melampaui ekspektasi.
Dari wilayah Asia, risalah pertemuan bank sentral Jepang menunjukkan para pembuat kebijakan masih memantau konflik geopolitik ini sebagai risiko utama yang dapat memicu lonjakan harga barang. Namun demikian, bank sentral sepakat bahwa tingkat suku bunga dapat kembali dinaikkan secara bertahap jika pemulihan ekonomi domestik terus berjalan sesuai dengan harapan.
Ke depan, fokus pasar diprediksi akan bergantung pada rilis data ketenagakerjaan bulanan Amerika Serikat yang terbit pada akhir pekan. Meskipun laporan perkiraan awal menunjukkan penyerapan tenaga kerja sektor swasta yang cukup solid, rilis utama Non-Farm Payrolls (NFP) mendatang akan menjadi indikator krusial yang menentukan langkah kebijakan suku bunga bank sentral AS pada pertemuan berikutnya.