Ikhtisar:Dolar AS bergerak stabil dan cenderung melemah tipis setelah ketegangan geopolitik mereda menyusul ditundanya rencana serangan ke Iran. Sementara itu, yen Jepang bertahan stabil setelah rilis data pertumbuhan ekonomi (PDB) Jepang yang melampaui ekspektasi pasar.

Dolar AS diperdagangkan stabil dan cenderung melemah tipis terhadap sekeranjang mata uang utama setelah kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah mulai mereda.
Sentimen pasar membaik menyusul keputusan Presiden AS untuk menunda rencana serangan militer terhadap Iran demi memberikan ruang bagi negosiasi, yang didukung oleh pengajuan usulan perdamaian baru dari negara tersebut.
Meredanya ketegangan geopolitik ini turut menstabilkan pasar obligasi global yang sebelumnya sempat mengalami tekanan. Meski demikian, terblokirnya jalur pelayaran vital di Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama karena memicu lonjakan harga minyak mentah.
Kondisi energi ini membuat investor tetap waspada terhadap risiko inflasi yang berlarut, yang dapat mempengaruhi langkah bank sentral AS terkait penentuan arah kebijakan suku bunga mendatang.
Dari kawasan Asia, nilai tukar dolar AS bergerak mendatar terhadap yen Jepang. Pergerakan ini terjadi setelah rilis data resmi yang menunjukkan ekonomi Jepang berhasil tumbuh 2,1 persen secara tahunan pada kuartal pertama.
Angka pertumbuhan tersebut melampaui proyeksi awal pasar, sehingga memberikan pijakan bagi mata uang yen di saat otoritas setempat juga menyatakan kesiapannya untuk bertindak jika terjadi volatilitas yang berlebihan di pasar valuta asing.
Pada pasangan mata uang lainnya, pergerakan harga terpantau relatif terbatas. Euro berada pada posisi datar terhadap dolar AS, sementara poundsterling Inggris dan dolar Australia mencatatkan pelemahan ringan.
Para pelaku pasar valuta asing diperkirakan akan terus berhati-hati sembari memantau kelanjutan proses negosiasi dan respons kebijakan moneter dalam menghadapi dinamika pasar energi dan inflasi global.